Data Saham Indonesia
EN Google Play
Kembali ke artikel

Bandarmology – Akumulasi Distribusi

Cara membaca akumulasi dan distribusi bandar lewat top 5 broker net transaction dan NBSA, plus ilustrasi siklus akumulasi–markup–distribusi–markdown.

Bandarmology berasal dari kata “bandar” ditambah akhiran “-mology” yang berarti ilmu atau pengetahuan. Istilah yang sering terdengar dalam perdagangan pasar saham ini dapat diartikan sebagai analisa yang mencoba mengidentifikasi ke mana arah transaksi yang sedang dilakukan bandar atau pemain besar pada suatu saham, dengan tujuan mengikuti arah pergerakan tersebut.

Bagi trader yang sudah cukup mengenal pasar saham, harga saham saat ini tidak selalu ditentukan oleh supply dan demand yang riil. Ada pihak-pihak yang bisa mengendalikan harga saham pada suatu saat. Caranya: dengan jumlah uang yang besar dan jumlah lot saham yang banyak, bandar bisa memengaruhi sisi supply dan demand secara langsung dan artifisial. Umumnya bandar juga dekat dengan pemilik perusahaan atau pemegang saham mayoritas — bahkan tidak jarang merupakan kelompok yang sama — sehingga punya kemampuan memengaruhi kebijakan manajemen, atau setidaknya mengetahui informasi akurat mengenai kondisi internal perusahaan.

Ini alasan mengapa perusahaan yang laporan keuangannya merugi, atau secara fundamental tidak bagus, atau sudah jauh di atas valuasi wajarnya, harga sahamnya bisa tetap naik. Begitu pula sebaliknya: perusahaan yang secara fundamental tidak bermasalah bisa dibuat jatuh dalam, sampai analis harus menebak-nebak penyebabnya. Seringnya harga bergerak terlebih dahulu, barulah kemudian orang mencari alasannya.

Kita tidak mengenal siapa bandar tersebut, tetapi kita tahu dia ada. Pada artikel ini kita menggunakan istilah “bandar” tanpa perlu mengetahui siapa orangnya.

Mengapa bandarmology mungkin dilakukan di IDX

Pada pasar saham Indonesia kita bisa mengetahui identitas pelaku transaksi sampai level tertentu, yaitu:

  • identitas broker/sekuritas yang digunakan penjual dan pembeli
  • identitas kewarganegaraan pelaku — lokal atau asing

Data ini muncul pada setiap transaksi yang terjadi di running trade dan bisa diakses pada semua aplikasi online trading. Kita memang tidak bisa mengetahui sampai level per individu nasabah, karena data itu tidak dibuka ke publik oleh bursa. Namun cukup dari data broker dan asing/lokal ini kita bisa membuat analisa mengenai apa yang sedang dilakukan bandar: akumulasi, distribusi, atau tidak melakukan apa pun.

Kondisi terakhir biasanya ditandai volume transaksi kecil dan harga yang turun sedikit demi sedikit karena trader ritel keluar atau cut loss, lalu ditampung trader ritel lainnya.

Pada aplikasi Data Saham Indonesia terdapat dua analisa bandarmology:

  1. Top 5 broker net transaction
  2. Foreign net transaction (NBSA: Net Buy Sell Asing)

Top 5 broker net transaction

Karena kita bisa mengetahui broker yang digunakan buyer maupun seller, kita bisa menyusun broker summary: berapa jumlah transaksi yang dilakukan masing-masing broker, baik jual maupun beli pada suatu saham, diurutkan dari nilai terbesar ke terkecil.

Broker summary saham TLKM

Tabel di atas memperlihatkan broker mana yang melakukan transaksi buy dan sell terbesar pada saham TLKM. Satu broker bisa melakukan transaksi buy dan sell sekaligus, karena broker mewakili banyak trader atau investor individual maupun fund.

Pada contoh di atas, broker ZP melakukan buy TLKM sebanyak 81.256 lot pada harga rata-rata Rp 4.374,38, dan menjual 45.653 lot pada harga rata-rata Rp 4.373,11 — sehingga terjadi net buy sebesar 35.603 lot.

Dari tabel ini kita bisa menyusun satu tabel lagi yang menampilkan transaksi bersih masing-masing broker.

Net broker summary saham TLKM

Tabel ini adalah nilai transaksi bersih masing-masing broker, yaitu transaksi buy dikurangi transaksi sell. Bernilai positif berarti net buy; bernilai negatif berarti net sell.

Sekilas sudah terlihat bahwa sedang terjadi akumulasi pada saham TLKM: jumlah buyer lebih sedikit daripada jumlah seller, yang artinya buyer mengumpulkan barang dari banyak seller.

Perhitungan

Untuk perhitungan top 5 broker accumulation distribution, kita hanya fokus pada lima broker buyer terbesar dan lima broker seller terbesar. Teorinya membandingkan total top 5 broker BUY versus total top 5 broker SELL, lalu menghitung selisihnya:

  • Apabila total BUY lebih besar, selisihnya dicatat sebagai akumulasi.
  • Apabila total SELL lebih besar, selisihnya dicatat sebagai distribusi.
top 5 broker = [total buy oleh top 5 buyer] - [total sell oleh top 5 seller]

= [net transaksi RX + CS + ZP + CG + IF] - [net transaksi AK + AI + GR + FZ + DX]
= [213.804] - [151.102]
= 62.702

Terjadi akumulasi sebanyak 62.702 lot saham TLKM oleh top 5 broker net transaction.

Mengapa lima broker? Karena bandar umumnya menggunakan beberapa broker sebagai perantara, dan broker ini pun bisa berganti-ganti dari hari ke hari. Di sini kita asumsikan bandar menggunakan lima broker; pada kenyataannya tentu bisa berbeda pada setiap saham dan setiap bandar.

Pada aplikasi Data Saham Indonesia data ini dihitung secara realtime dan ditampilkan sebagai chart pada layar bandarmology, tersedia pada timeframe daily maupun intraday (hourly, 15min, dan 5min) untuk keperluan trading cepat.

Foreign net transaction (NBSA)

Foreign Flow atau NBSA (Net Buy Sell Asing) merupakan teori akumulasi distribusi berdasarkan perhitungan buy dan sell yang dilakukan spesifik oleh trader dengan tipe F (Foreign).

Nilai akumulasi distribusi asing = [total buy oleh asing] - [total sell oleh asing]

Perhitungan NBSA lebih cocok untuk saham-saham yang diminati asing, yang biasanya juga merupakan saham favorit pada portofolio reksadana. Data ini dapat diakses pada layar bandarmology dan ditampilkan dalam timeframe daily, hourly, 15min, dan 5min.

Cara kerja bandar

Disclaimer. Kami tidak kenal dekat dengan bandar dan belum pernah berdiskusi langsung dengan seorang bandar tentang bagaimana mereka bekerja. Yang disampaikan di sini hanyalah model berdasarkan pengamatan dan pengalaman trading. Untuk amannya, anggap saja ini cerita fiksi.

Ada dua tipe bandar — sebut saja bandar baik dan bandar jahat.

Bandar baik sebenarnya hanya perantara order transaksi. Proyek dimulai ketika ia mendapat order beli atau jual dari penyandang dana besar atau institusi fund manager, pada harga dan tanggal deadline tertentu yang ditentukan lewat negosiasi. Bandar kemudian mengeksekusi order sambil berusaha membeli di bawah harga yang diperintahkan untuk order beli, dan menjual di atas harga yang diperintahkan untuk order jual. Selisih antara harga rata-rata transaksi dan harga perintah order inilah yang menjadi profitnya — sehingga ia akan berusaha keras memengaruhi harga agar mencapai level yang diinginkan. Jika mendapat order beli, bisa jadi awalnya ia membanting harga ke bawah dengan menjual stok miliknya sendiri, baru kemudian mengumpulkan lagi di bawah.

Pada umumnya siklus akumulasi–distribusi terdiri atas beberapa fase:

  1. Akumulasi
  2. Mark-up
  3. Distribusi
  4. Mark-down
  5. Exit

Siklus ini digambarkan dengan baik oleh Wyckoff Market Analysis pada StockCharts ChartSchool. Perlu diingat bahwa itu adalah model yang disederhanakan; pada kenyataannya bentuk chart akan lebih kompleks karena proses akumulasi maupun distribusi dapat terjadi berkali-kali oleh pihak yang berbeda-beda, baik sejalan maupun berlawanan.

Akumulasi

Pada fase awal, bandar yang memiliki akses informasi lebih baik terhadap suatu saham atau pasar akan mulai mengumpulkan barang. Ia tidak ingin harga melonjak naik ketika mulai dikoleksi, sehingga akumulasi dilakukan diam-diam dan sedikit demi sedikit agar tidak terjadi lonjakan pada sisi demand.

Di samping itu bandar juga menjaga sisi supply tetap tinggi — memanfaatkan sentimen negatif pasar, atau memunculkan analisa dan berita negatif. Dengan modal besar, bandar dekat dengan broker maupun manajemen perusahaan, sehingga sangat memungkinkan untuk memengaruhi hasil riset atau forecast suatu saham.

Proses akumulasi juga tidak harus membeli dari secondary market; bisa jadi dari repo. Dari sisi pemegang saham, repo adalah meminjam uang dengan jaminan saham. Dari sisi bandar terjadi kebalikannya: meminjam saham dengan jaminan uang, yang nantinya harus dikembalikan kepada pemilik awal dalam bentuk saham.

Mark-up

Fase akumulasi diakhiri dengan proses mark-up, yaitu menaikkan harga dengan cepat untuk menarik pihak lain ikut bertransaksi karena tergiur pergerakan harga yang liar. Pada saat ini rumor mulai dihembuskan kepada ring-1 bandar bahwa saham X sedang “ada hajatan”. Seiring pergerakan harga, rumor semakin menyebar.

Distribusi

Harga bergerak relatif sideways, volume transaksi masih besar, terjadi beberapa kali koreksi dalam namun beberapa kali juga kembali ke titik tertingginya. Yang sebenarnya terjadi: bandar membuang barang untuk take profit, namun tetap menjaga harga agar tidak menembus level psikologis tertentu sehingga minat beli tidak hilang.

Berita mulai dikeluarkan untuk memancing minat beli orang-orang yang ketinggalan kereta pada fase mark-up. Inilah sebabnya ada istilah buy on rumor, sell on news — saat berita keluar, itu pertanda pesta sudah hampir selesai.

Mark-down

Di akhir fase distribusi bandar akan memiliki sedikit sisa barang. Untuk saham yang dikuasai secara dominan tanpa lawan seimbang, bandar bisa menjatuhkan harga dengan membanjiri pasar. Sesuai hukum supply and demand, supply berlebih tanpa demand membuat harga jatuh. Jatuhnya harga semakin membuat panik trader, sebagian melakukan cut loss, dan harga semakin turun.

Proses mark-down dilakukan agar bandar bisa berakumulasi lagi di harga murah pada siklus berikutnya — terutama jika saham tersebut merupakan pinjaman yang harus dikembalikan dalam bentuk saham.

Exit

Pada skenario di mana bandar tidak perlu berakumulasi lagi di harga bawah, ia akan meninggalkan saham tersebut. Pergerakan harga terlihat lesu, volume kecil, dan harga semakin menurun karena transaksi didominasi investor nyangkut yang cut loss. Inilah yang terjadi pada banyak saham yang harganya parkir di gocap — dan kalau sudah sampai gocap, akan sangat susah untuk exit.

Tidak menutup kemungkinan setelah 5 atau 10 tahun bandar lama maupun bandar baru kembali masuk dan meramaikan perdagangan, memulai siklus berikutnya. Biasanya disertai rumor bahwa perusahaan akan diakuisisi, melakukan corporate action, atau menemukan bisnis baru.

Menghindari kerugian pada saham gorengan

Pertama, jangan ikut trading pada saham yang bandarnya tidak ada lawan — artinya saham tersebut dikuasai satu bandar sendirian. Lebih baik salurkan energi untuk menganalisa saham lain yang memang ada valuasinya. Pada saham seperti ini data bandarmology pun tidak terlalu membantu, karena bandar dengan mudah memanipulasi perhitungannya — ia juga mengetahui teknik perhitungan bandarmology.

Ada dua pengecualian:

  1. Anda kenal dekat dengan kaki tangan bandar dan mendapat info langsung — di sini artinya Anda me-monetize relasi tersebut.
  2. Anda memang ingin gambling dan tidak masalah kehilangan 100% uang pada saham tersebut, dengan jumlah yang tidak seberapa dibanding total kekayaan Anda.

Tidak ada yang salah dengan gambling, terutama mengingat saham adalah salah satu media gambling yang legal di Indonesia. Yang bisa jadi salah adalah gambling tanpa sadar sedang gambling — ini yang berbahaya.

Siap mulai analisis hari ini?

Unduh gratis dan dapatkan akses ke data IDX, sinyal teknikal, dan portofolio Anda dalam satu tempat.

Unduh di Google Play

4.7 ★ · 15.800 ulasan